#LateNightTalk : Tuntutan Umur

Senin, September 03, 2018

Wow udah 2018 aja ya (telat sadarnya jes..) dan bulan November ini aku 21 tahun! Waktu cepet banget berlalu, terasa seperti baru tahun lalu aku mulai ngeblog, padahal sudah mau masuk 5 tahun. Rasanya waktu aku mulai ngeblog dan masuk ke berbagai komunitas blogger, aku sendiri yang masih duduk di bangku SMA dan yang paling muda disana. Tapi sekarang aku sudah dewasa, 21 tahun, sudah hampir lulus kuliah dan sebentar lagi harus mapan, harus punya pekerjaan yang oke, harus cari pacar, terus nikah...

Tuntutan, tuntutan, tuntutan.


"What are you grateful for today?"
Simple question, hard to answer.

Di usiaku yang sudah kepala 2 ini, pola pikirku sudah nggak sama dengan waktu aku remaja awal-awal ngeblog. Waktu aku umur 16 tahun, aku cuma ngeblog dan main instagram just for fun, karena aku suka makeup. Itu doang. 

Tapi sekarang, blogger vlogger makin banyak bermunculan dengan usia yang masih muda-muda, standar untuk membuat konten pun makin tinggi, saingan makin banyak, dan ngeblog atau instagram bukan hanya untuk sekedar sharing tapi juga menjadi tempat untuk mencari penghasilan. Aku pun sempat kehilangan ambisi awalku karena tertutup keinginan untuk punya banyak followers, readers, agar terlihat seperti "influencer" yang disukai banyak orang.

Aku juga nggak paham sejak kapan creator industry ini jadi seperti ini. Melelahkan sih ya, aku nggak bisa berhenti untuk membandingkan diriku dengan orang lain, terutama kalau aku melihat yang lebih muda dariku, lebih baru, tapi sudah lebih "sukses".

Tidak hanya di dunia creator sih, aku juga merasakan tuntutan umur ini di kehidupanku. Aku sudah umur 21, sudah mau lulus kuliah. Pertanyaan besar yang datang dari semua orang : nanti habis lulus mau ngapain? Kok umur segini belum tau mau ngapain?



Waktu itu aku sempat ikut talkshow sebuah acara dimana pembicaranya adalah Yasa Singgih, seorang pengusaha dan owner dari Men's Republic. Dia berbagi tentang usahanya, gimana caranya dia bisa sukses seperti sekarang. Aku kaget sih karena ternyata dia kelahiran 1995! Cuma beda 2 tahun dariku, dan sudah sangat sukses. Ia memulai bisnisnya dari kuliah semester 2. Sementara waktu aku semester 2, aku ngapain? Aku belum berbuat apa-apa yang menghasilkan seperti dia.

Gimana ya, memang sih kalau secara teori, semua ada saatnya. Semua orang memiliki masa yang berbeda-beda, ya kan? Ada yang sukses di usia 20, ada yang sukses di usia 30, bahkan 40-50. Tapi aku merasa makin lama tuntutan untuk "sukses" makin cepet ya? Misalnya seseorang berusia 30 belum nikah pasti dipandang sebelah mata. Sekarang anak kuliah pun dituntut untuk kerja (misalnya buka online shop, freelance, dll) padahal jaman dulu imagenya anak kuliah ya kuliah, waktu lulus baru kerja.

Karena pemikiran ini aku jadi mengalami existential crisis loh. Aku sebenarnya ngapain sih? Apa panggilanku? Aku harus berbuat apa supaya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat? Apa yang bisa aku lakukan untuk membawa dampak positif untuk orang-orang disekitarku?

Untuk sekarang sih aku mau berjanji ke diriku sendiri kalau aku mau konsisten membuat konten, baik di blog maupun instagram. 
For now, I'll work hard and let's just see where life takes me.


.....

Buat kalian, terutama yang umur 20-an gitu, apakah kalian merasakan apa yang kurasakan?



Thanks for visiting!
Xoxo,
Jessi ∞
Instagram, Twitter : @jessicaalicias
YouTube : Jessica Alicia
Facebook : Jessica Alicia
LINE : @its5805k

You Might Also Like

2 comments

  1. Bener banget. Akupun juga sempat merasakan dan berpikir seperti yg kamu pikir. Dan ketika baca tulisanmu, aku jadi merasakan kembali hal2 yg aku rasain ketika mikirin hal2 itu. #eyaaambuletdisituaja.

    Tapi, bbrp hal yg membuat aku merasa semua akan baik2 saja adalah (personal sih) definisi sukses yg kamu anut, Jes.

    Dan kalau ngomong sukses, setiap org beda2 dan pastinya rumput tetangga lebih hijau. Padahal belum tentu sehijau itu. Adapun yg beneran hijau, pasti ada suka dukanya. Tapi ada juga yg dia punya rumput emang uda hijau dari sononya.

    Dan kalau selalu berpikir masalah hijau2nya, sepertinya tidak akan ada rasa bersyukur dihari2 kita.

    Secara pribadi, aku berusaha mencari definisi sukses yg benar2 bisa membuatku merasa bahagia dan tentunya yg bisa membuatku mensyukuri apa yg aku punya.

    Selanjutnya adalah hal penting (bisa jadi paling penting) yg paling susah, yakni mulai melangkah. Nah looo!

    Kemana kaki kan berpijak? Etdah, hahahhaa

    Well, sukses, apapun makna sukses yg dianut (kayak kepercayaan aja), tercapainya berbeda2. Ada yg 1 tahun 2 tahun dst... Jangan jadikan itu tolak ukur dan khususnya membanding2kannya dg org lain. Ga bakal damai pikiranmu deh seriusan. Dannnnnnn akhir kata, tekunlah menggarap rumputmu sendiri. Niscaya kamu akan bahagia dan bisa mensyukuri apapun yg ada padamu (bahagia dan bersyukurnya dari sekarang, jangan nunggu hijau dulu wkakwkkq).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, sebenernya dalam hati aku tau kalo ga boleh terus membanding2kan dan memang semua orang ada masanya. Jadi ya cuma soal berusaha dan bersyukur ya kaann dan "sukses" itu kelak akan datang. Cuman skrg masih belum damai kali ya, dan masih proses kesana. Makasih sharingnya ♥︎

      Hapus

Leave a comment below if you have any questions or opinion.
I will reply them as soon as I can ^^
Please, no advertising/spamming on the comment section!